Friday, June 8, 2012

Tekad Seorang Pelacur Muda Cantik Yang Tuna Rungu

"Pelacur", apabila kita mendengar kata tersebut maka kita akan segera berkonotasi negatif. Ya, di mata masyarakat kita yang beragama yang namanya pelacur dan pelacuran adalah bagaikan penyakit dan sampah yang harus dijauhi dan di singkirkan.

Stigma seseorang perempuan menjual tubuhnya karena faktor ekonomi memang hampir selalu terbukti benar. Apakah itu karena "terpepet" sehingga ia terpaksa melacur atau karena ia tergiur dengan uang banyak yang didapat amat mudah sehingga ia melacur dengan "sukarela". Faktor ekonomi ini bagaikan lingkaran setan karena sesekali seorang wanita melacur maka ia akan susah keluar dari "dunianya" ini. Bagaikan sugesti dan candu..lagi, dan lagi.

Selain itu anggapan bahwa para pelacur umumnya berasal dari kalangan ekonomi rendah, keluarga berantakan (broken home), sejatinya tidak selalu benar.

Contohnya ini, seorang pelacur muda yang cantik, berpenampilan sederhana dan (lebih miris lagi) sekaligus tuna rungu bernama Anti (nama samaran) berusia 22 tahun adalah anak seorang saudagar kelontong. Berasal dari keluarga baik-baik dan keadaan ekonomi yang berada. Meskipun tuna rungu, ia sempat mengenyam pendidikan tinggi di sebuah PTS ternama. Ia terpaksa melacur karena dihamili oleh pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab.

[imagetag]

Kuliahnya drop out karena malu. Ia kini menjadi single parent bagi seorang putri cantik berusia 4 tahun. dan kini ia sedang menjalani hubungan dengan seorang pria asal Hongkong.
Ditemui di sebuah sudut Jalan Jenderal Sudirman, dia menuturkan kisah pilunya dengan wawancara melalui media layar ponsel.

Berbeda dengan kebanyakan pelacur lain yang sulit untuk bertobat. Ia memantapkan hati untuk berhenti dari aktivitas haram ini sebelum berusia 25 tahun.

Quote:
"Saya tidak ingin terus-terusan seperti ini. Suatu saat saya pasti akan berhenti sebelum saya berumur 25 tahun".
Sebuah tekad yang perlu diapresiasi. Mari kita doakan dia.
#fd452a

No comments:

Post a Comment