Sunday, June 17, 2012

Misteri “Prometheus” dan Jawaban Asal-usul Manusia

SUDAH nonton Prometheus? Jika belum sempatkanlah.

Bagi saya, Prometheus adalah sebuah tontonan istimewa. Begini, sebagai generasi yang lahir selepas tahun 1970-an, saya tak menikmati menonton film-film fiksi ilmiah di bioskop. Padahal kita tahu, sejak menjelang 1970-an hingga awal 1980-an Hollywood melahirkan film-film fiksi ilmiah yang bermutu dan menjadi bagian tonggak sejarah perfilman.

Dimulai dengan Stanley Kubrick yang menyuguhkan perjalanan luar angkasa nan filosofis dalam 2001: A Space Odyssey (1968), kemudian berturut-turut lahir Star Wars (1977)—yang rasanya lebih pas disebut "space opera—hikayat luar angkasa" ketimbang fiksi ilmiah—juga karya Steven Spielberg Close Encounter of the Third Kind (1977) tentang perjumpaan manusia dengan makhluk luar angkasa; kemudian Ridley Scott merilis Alien (1979), dan di era berikutnya ada lanjutannya Aliens (1986); plus sebelumnya Spielberg merilis film keluarga E.T.: Extra Terrestrial (1982) tentang anak-anak yang bertemu dan berteman dengan makhluk UFO lucu.

Look and feel yang saya rasakan waktu nonton Prometheus persis ketika nonton film-film fiksi ilmiah era 1970-an. Tengok ketika pesawat luar angkasa ukuran raksasa memenuhi layar sedikit demi sedikit seolah lewat di atas kepala kita. Sensasi begini makin terasa spesial karena saya tak menyaksikannya lewat layar TV, melainkan layar bioskop yang lebar.

Syahdan, usai nonton Prometheus saya pertama-tama berkicau mengatakan kesan atas pengalaman menonton dahulu. Saya tulis begini di akun Twitter saya (@a_irwansyah: "Seneng fiksi ilmiah yg m'pertanyakan eksistensi kt di jagat raya masih dibuat & menontonnya @ bioskop adl privilege #Prometheus #shortReview."
Tanggapan soal isi filmnya, saya tuliskan panjang lebar di sini.
[imagetag]
Saya membaca entah di mana yang mengatakan di deretan sutradara fiksi ilmiah, Ridley Scott (well, walau sebetulnya ia jarang sekali bikin film jenis ini) berada di tengah di antara Stanley Kubrick (sutradara 2001) dan James Cameron (sutradara Aliens dan Avatar, 2009). Kubrick, kata artikel itu, lebih asyik menyuguhkan gagasan di film-filmnya, sedang Cameron lebih asyik menyuguhkan gambar dan efek visual spektakuler. Nah, Scott dikatakan berada di tengah lantaran ia tak lupa menyampaikan gagasannya, tapi di saat bersamaan ia juga bikin filmnya enak ditonton, menyuguhkan visualisasi yang asyik.

Saya membuktikannya dengan menonton lagi Alien pertama. Menonton Alien lagi, sulit membayangkan film macam begitu bisa dibuat saat ini. Alien lahir dalam tradisi film-film suspens era 1970-an yang membangun ketegangan bata demi bata, perlahan-lahan. Hingga 30 menit pertama, alien baru muncul dalam wujud binatang kecil. Ia mulai memangsa awak pesawat satu demi satu setelah satu jam lewat. Itupun wujud aslinya masih samar.

Tapi dengan prinsip less is more macam begitu ketegangan terasa semakin intens. Seperti awak pesawat di film itu, penonton tak tahu wujud asli pemangsa sebetulnya. Oleh karena itu, Alien pertama kemudian lebih dikenang sebagai film horor di ruang angkasa. Scott diibaratkan memindahkan teror di rumah hantu di film-film horor ke pesawat luar angkasa.

Bagaimana dengan Prometheus? Film ini bisa dikatakan sebuah prekuel yang malu-malu—dibilang prekuel boleh, dibilang berdiri sendiri pun tak masalah. Memang ada benang merah dengan hikayat Alien yang diciptakannya, tapi Scott sepertinya tak tertarik sekadar menyuguhkan teror di luar angkasa. Ia ingin membagi gagasannya (atau tepatnya, menyodorkan jawabannya) atas pertanyaan besar umat manusia: Darimana kehidupan di bumi ini berasal? Bagaimana manusia ada dan mendiami bumi? Siapa yang menciptakan manusia?

Lantas, apa yang disodorkan Prometheus? Semoga Anda sudah menontonnya hingga saya tak perlu bilang "AWAS SPOILER!"

Prometheus mengandaikan, dari jejak-jejak arkeologis ribuan tahun lalu yang tersebar di pelosok bumi, diketahui pola yang sama: manusia purba menyembah semacam rasi bintang yang sama. Tempat ini kemudian yang diduga menjadi tempat asal-usul kehidupan manusia di bumi. Mereka, yang mendiami tempat itu, ditengarai sebagai "pencipta" kita.

Syahdan, menjadi misi utama pesawat luar angkasa bernama "Prometheus" mendatangi tempat itu, mencari jawaban atas asal-usul manusia.
***
[imagetag]
Namun, sebelum lebih jauh membincangkan jawaban yang disodorkan Prometheus, izinkan saya mendiskusikan berbagai pertanyaan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar kita: Apakah alam semesta berawal dan berakhir? Bagaimana awalnya? Bagaimana nasib manusia bumi? Benarkah kehidupan berawal dari kekacaubalauan? Akankah kehidupan berakhir akibat jagat raya mengkerut dan runtuh? Dan di atas itu semua, kenapa kita selalu mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut?

Dalam esainya di edisi khusus majalah Time terbitan Januari 1998 sejarawan AS Daniel J. Boorstin mengatakan manusia adalah "The Asking Animal—makhluk yang bertanya." Boorstin menulis: "Caught between two eternities—the vanished past and the unknown future—human beings never cease to seek their bearings and sense of direction. We inherit our legacy of the sciences and the arts—the works of the great discoverers and creators, the Colombuses and Leonardos—but we all remain seekers. Man is asking animal."

Manusia ditakdirkan selalu bertanya-tanya, termasuk mempertanyakan "bagaimana" kita berada di bumi ini dan "mengapa" kita berada di sini. Stephen Hawking, sang fisikawan mahsyur itu, menjabarkan dalam esainya "Asal-Usul Jagat Raya" (dimuat dalam buku kumpulan tulisannya Black Holes and Baby Universes, yang saya baca edisi terjemahannya terbitan Gramedia, 1995), "debat tentang apakah jagat raya mempunyai awal dan bagaimana lahirnya sudah berlangsung sejak manusia mencatat sejarahnya."

Hawking mencontohkan, pada abad ke-17 Uskup Ussher memperhitungkan bahwa alam semesta diciptakan pada 4004 SM, sebuah angka yang diperolehnya dari menjumlahkan usia tokoh-tokoh dalam Perjanjian Lama. Tentu, bagi pandangan orang sekarang, angka yang dikatakan tersebut terbilang mengada-ada. Namun, sesungguhnyalah, dikatakan Hawking, tahun penciptaan yang disebutkan berdasar hitung-hitungan dari Kitab Suci itu tidak jauh beda dari saat akhir zaman es terakhir, yang secara ilmiah sebagai awal munculnya manusia modern. Sekitar 5000 SM tersebut, peradaban manusia sudah mencapai bentuknya yang mulai kompleks.

Dalam perkembangannya, sains—yang di dalamnya terdapat kontribusi Hawking—meyakinkan kita jagat raya dimulai oleh sebuah peristiwa yang disebut Dentuman Besar (Big Bang) yang diperkirakan terjadi antara 10-20 miliar tahun lalu. Kita membayangkan, di waktu itu, jagat raya berada dalam kerapatan tak terhingga lalu terjadi "dentuman besar". Alam semesta lahir pada satu waktu tertentu dalam keadaan panas dan mampat.

Keyakinan ini diperoleh setelah didapati oleh Edwin Hubble tahun 1929 bahwa jagat raya memuai, sesuai yang diteorikan Einstein lewat Teori Relativitas Umum. Artinya, jika jagat raya memuai, pasti pernah ada suatu masa saat jagat raya berada dalam keadaan rapat dan mampat. Ruang dan waktu, termasuk kemudian kita di dalamnya, berawal dari situ.

Lewat buku terbarunya, The Grand Design (edisi Indonesia terbit 2011) yang ditulisnya bareng Leonard Mlodinow, Hawking bergerak lebih jauh soal penciptaan alam semesta. Ia mengklaim, penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi supernatural atau dalam hal ini: Tuhan. Semesta yang banyak (ya, semesta diyakini tak cuma satu) muncul alamiah dari hukum fisika. Dicatat Dian Basuki di Tempo (edisi 7 November 2010), klaim ini lebih deterministik dibanding pernyataan Hawking dalam A Brief History of Time sekitar 22 tahun sebelumnya. Kata Hawking: "Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah ada. Kalau begitu, di mana tempat bagi Sang Pencipta?"

Menafikan peran Tuhan, tentu saja sebuah klaim kontroversial, meski bukan hal baru. Teori Seleksi Alam Charles Darwin sudah memulainya dan menjadi debat terus menerus hingga kini, lebih dari 200 tahun setelah pertama dicetuskan.

Sambil menyitir Darwin, bukti-bukti arkeologis kemudian menunjukkan, apa yang disebut manusia modern, homo sapiens, kita, pertama-tama muncul sekitar 200 ribu tahun lalu di Afrika. Dari sana kita beranak-pinak, bermigrasi keluar Afrika, menyebar ke seluruh bumi, memenangkan persaingan (baca: seleksi alam) dengan jenis manusia yang disebut Neanderthal hingga mereka punah dan kita, yang jumlahnya kini 7 miliar, menguasai bumi ini.
***
[imagetag]
Itu yang dikatakan sains (fisika, biologi) atas asal-usul kita. Beda betul dengan yang dikatakan Ridley Scott lewat Prometheus ini.

Syahdan, pesawat "Prometheus" tiba di sebuah planet mirip bumi (meski tak persis betul, namun planet tersebut memungkinkan organisme kompleks bisa hidup). Film ini mengandaikan manusia pada akhirnya menemukan jawaban pamungkas: bertemu pencipta mereka.

Pertemuan itu kemudian memang berujung pada teror yang menimpa para awak pesawat, dan di sinilah filmnya menjadi tontonan seru. Namun, sebagai sineas yang ingin menyelipkan pandangannya, Scott piawai memasukkan perdebatan yang sudah berlangsung sejak lama antara sains dan agama. Ketika sudah diiketahui asal-usul kita adalah alien dari planet lain, seorang tokohnya bertanya pada tokoh lain yang memakai kalung Salib (perlambang keyakinannya pada agama dan Tuhan sebagai Pencipta semesta), "Kau masih memakai (kalung) itu?"

Scott memilih tokohnya (diperankan Noomi Rapace yang mengingatkan kita pada Sigourney Weaver di penghujung 1970-an di Alien pertama) memakai kalung Salib. Secara kasat mata, Scott mungkin mencari aman. Ia mungkin ogah dibilang anti Tuhan. Tapi, bila ditelisik, ini juga menandakan perbedaan dalam memandang penciptaan semesta lewat Tuhan atau tidak perlu Tuhan, sejatinya adalah perkara interpretasi—meminjam Keith Ward dalam God, Chance and Necessity (1996) yang dikutip Dian Basuki. Hawking telah memilih interpretasi materialistik.

Ridley Scott? Ah, dia sih cuma bikin film fiksi ilmiah yang asyik. Kelewat bodoh bila kita meyakini tesisnya di film ini (bahwa alien yang menciptakan kita). Lebih kelewat bodoh lagi kalau film macam begini dianggap sesat dan bisa mempengaruhi keimanan seseorang.

Pesan saya, tonton saja, dan nikmati asyiknya bertanya-tanya. Hei, bukankah kita ini the asking animal?

images credit: 20th Century Fox
#fd452a

No comments:

Post a Comment