Friday, June 8, 2012

Konsumsi Manusia Ancam Beberapa Spesies Langka

[imagetag]

Nafsu makan orang-orang di negara maju yang tidak pernah puas akan berbagai produk seperti kayu dan kopi mengancam keberlangsungan hidup satu dari tiga spesies binatang langka di negara-negara miskin. Demikian hasil sebuah penelitian oleh Australia.

Akademisi dari Universitas Sydney menghabiskan waktu lima tahun dalam rangka melacak perekonomian dunia, menyelidiki lebih dari lima miliar rantai pasokan yang menghubungkan konsumen pada sekitar 15 ribu komoditas yang diproduksi di 187 negara.

Mereka berfokus pada penjualan komoditas global yang berpengaruh terhadap kelangkaan ragam hayati seperti kopi, coklat dan kayu, dengan data referensi silang pada 25 ribu spesies langka di dunia.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature itu menyimpulkan, rantai perdagangan internasional dapat mempercepat penurunan di lokasi yang jauh berada di tempat di mana produk tersebut dibeli.

"Hingga kini, hubungan seperti itu sangat kurang dipahami," ujar peneliti utama, Manfred Lenzen, dari grup Integrated Sustainability di universitas tersebut.

"Perhitungan kami yang luar biasa tersebut, yang membutuhkan data bertahun-tahun dan ribuan jam pemrosesan dengan superkomputer, membuat kita dapat melihat rantai pasokan dunia dengan detail yang mencengangkan untuk pertama kalinya."

Penelitian tersebut menujukkan, di negara-negara seperti Madagaskar, Papua Nugini, Sri Lanka dan Honduras, 50-60 persen dari kelangkaan keragaman hayati yang terjadi berkaitan dengan ekspor, kebanyakan untuk memenuhi permintaan dari negara-negara yang lebih kaya.

Contohnya, monyet laba-laba terancam kehilangan habitat karena tingginya permintaan kopi dan bertambahnya jumlah pabrik cokelat di Meksiko dan Amerika Tengah.

Di Papua Nugini, 171 spesies, termasuk kuskus totol hitam dan echidna bermoncong panjang, terancam karena industri ekspor seperti pertambangan, dan penebangan yang dikirim ke rekanan perdagangan mereka, seperti Australia.

Sebanyak 60 dari spesies di Papua Nugini tersebut terancam karena penebangan hutan untuk memenuhi permintaan bahan bangunan di Jepang, ujar penulis tersebut, ditambah ekspor agrikultur dari Indonesia yang berdampak pada 294 spesies, termasuk macan.

"Terdapat masalah yang semakin mencolok bahwa konsumsi produk impor di negara berkembang dapat meninggalkan jejak yang lebih besar pada keanekaragaman hayati dari yang terjadi di negara asalnya," kata penelitian tersebut.

"Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana kasus ini berdampak pada banyak negara seperti AS, Jepang, dan banyak negara di Eropa."
#fd452a

No comments:

Post a Comment