Tuesday, May 22, 2012

Ternyata SMS bermanfaat sebagai Therapy Depresi

Bagi pengguna telepon seluler, aktivitas ber-SMS (short message service) tentu sudah menjadi ritual sehari-hari. Fitur standar yang terdapat di semua jenis ponsel itu, hingga kini, masih menjadi primadona banyak orang untuk saling berkirim pesan.

Berdasarkan penelitian Profesor Adrian Aguilera dari University of California-Berkeley, AS, SMS ternyata tidak hanya berguna untuk berbagi segala bentuk informasi. Kegiatan berkirim pesan lewat teks itu juga terbukti mampu menangkal depresi.


[imagetag]


ilustrasi





Aguilera yang merawat banyak orang berpenghasilan rendah yang mengalami depresi dan gangguan mental mengatakan bahwa pasiennya mengaku merasa lebih diperhatikan dan tersentuh saat menerima SMS yang menanyakan suasana hatinya. Hal itu menggambarkan interaksi yang positif.

"Ketika berada dalam situasi sulit dan menerima pesan SMS, pasien merasa jauh lebih baik, merasa diperhatikan dan didukung. Suasana hatinya juga ikut meningkat," kata Aguilera seperti dilansir Health24.com.


Penelitian yang dimuat jurnal Professional Psychology: Research and Practice itu dimulai pada 2010, ketika Aguilera mengembangkan program SMS yang disesuaikan untuk program intervensi pasien dengan bantuan Ricardo Munoz, psikolog dari University of California-San Fransisco, AS.

Pasien Aguilera dikirimi pesan SMS otomatis yang mendorong untuk berpikir dan menjawab kondisi suasana hatinya serta tanggapannya mengenai interaksi sehari-hari yang positif dan negatif.

"Kami memanfaatkan teknologi yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kesehatan mental masyarakat berpenghasilan rendah dan kurang terlayani," ungkap dia.

Psikolog klinis itu mendapatkan ide mengenai SMS ketika menyadari bahwa banyak pasiennya mengalami kesulitan menerapkan keterampilan yang dipelajari saat terapi untuk kehidupan sehari-hari. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh meningkatnya stres yang dihadapi setiap hari.

Pasiennya itu tidak mampu membeli laptop, tablet elektronik, atau ponsel pintar, tetapi kebanyakan punya telepon seluler biasa dan dapat membayar pulsa bulanan.

"Orang yang saya rawat tidak memiliki akses komputer dan internet secara langsung. Jadi, saya menggunakan ponsel untuk mengirim pesan SMS yang mengingatkan pasien agar melatih keterampilan yang diberikan saat terapi," ujar Aguilera.

Umpan balik dari pasien menawarkan wawasan baru mengenai kebutuhan untuk melakukan kontak biasa atau pemeriksaan oleh profesional kesehatan mental, bahkan hanya lewat teknologi komputer yang serba-otomatis.

Sesi pesan SMS dirancang untuk berlangsung hanya beberapa minggu, namun sekitar 75 persen pasien meminta agar tetap dikirimi pesan SMS terus. Ketika program sempat macet selama seminggu karena masalah teknis, beberapa pasien benar-benar terlihat mengalami perbedaan. Mereka terlihat merasa kehilangan dan ingin kembali menerima SMS.

Hipotesis Aguilera terbukti membuahkan hasil nyata bahwa pasien memang lebih cepat membaik karena tingkat depresi yang menurun setelah sering saling mengirim SMS.

Lewat keberhasilan penelitiannya tersebut, Aguilera mengaku termotivasi untuk terus menerapkan terapi SMS guna menyembuhkan pasiennya. "Saya berencana menggunakan telepon seluler untuk mengirim pesan dan mengingatkan pasien melakukan hal yang sama saat sesi terapi," terang Aguilera. (san/R-2)


Waspadai Texter's Neck

Meski sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa penggunaan SMS bisa meredam depresi, bukan berarti Anda harus kecanduan. Akan ada efek negatif yang bisa Anda alami jika terlalu sering melakukan kegiatan berkirim pesan.

Selain mampu membuat Anda lupa waktu, berkirim pesan lewat pesan teks berisiko menyebabkan sakit leher.

Seperti dikutip laman Times of India, para pakar kesehatan menyebut penyakit itu dengan nama texter's neck. Penderitaan baru itu dialami pencandu gadget yang lebih sering menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membungkuk mengetik pesan di ponsel mereka dan komputer.

"Rasa sakit timbul karena leher sering fokus mengarah ke bawah terlalu intens," ungkap Dr Kishore Punjabi, terapis chiropractic.

Ia menjelaskan selama melakukan pengiriman SMS terus-menerus, leher dan kepala bersandar ke depan dan menyebabkan pembalikan kurva leher. "Karena hal itu, proses sirkulasi darah berkurang. Ketika hal ini terjadi, dapat mengakibatkan tennis elbow," kata dia.

Sindrom texting memang terus meningkat di kota-kota besar. "Saya mendapatkan ada 30–40 orang yang menderita ini. Kebanyakan dari mereka adalah eksekutif dan anak-anak," tambah Kishore.

Meski hal itu bisa membahayakan kesehatan leher, Kishore tak bisa memastikan adanya larangan melakukan kegiatan berkirim pesan lewat SMS. "Saya tidak bisa melarang, SMS tidak dapat dihindari," kata dia.

Kishore menyarankan agar manfaat ber-SMS untuk mencegah depresi tidak rusak karena porsinya yang berlebih. Alangkah baiknya bila Anda tetap mampu mengontrol diri. (san/R-2)


Temukan Objek Permainan di Luar Kebiasaan

Depresi sama mematikannya seperti merokok. Keduanya diketahui sebagai pemicu risiko penyakit jantung yang bisa berujung kematian. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Pasalnya, selain terapi SMS, masih banyak terapi unik dan sederhana yang baik untuk kesehatan mental Anda. Berikut di antaranya.

Bermain di luar ruangan
Untuk orang dewasa yang mungkin jarang bermain bebas sejak masa kanak-kanak, keluar rumah adalah cara termudah dan terbaik untuk menikmati suatu kegiatan bermain. Cukup melangkah ke luar rumah dan pergi ke taman, Anda bisa menemukan suatu permainan. Tak ada salahnya Anda mencoba kembali untuk sekadar bermain ayunan di taman. Pasti rasa senang bisa Anda rasakan.
Melakukan sesuatu yang disukai

Anda akan merasa bersemangat kembali jika memberi kesempatan pada diri sendiri untuk melakukan hal yang disukai. Efeknya, Anda tidak akan pernah merasa tua. Bila bermain tenis, merakit rumah boneka, atau bermain sepatu roda adalah kesukaan Anda, tak ada salahnya Anda melakukan semua itu lagi. Hasilnya, mood Anda akan baik sepanjang hari.

Gunakan objek permainan
Kapan terakhir kali Anda menerbangkan layang-layang atau menyepak bola? Menggunakan objek bermain untuk membangkitkan kegembiraan bisa membantu Anda mendapatkan kebahagiaan. Melakukan aktivitas bermain seperti ini akan lebih efektif kalau dilakukan bersama keluarga.
Buat jadwal makan di luar

Merencanakan makan malam di luar rumah bersama keluarga bisa jadi hal menyenangkan. Bukan saja buat Anda, tapi juga untuk suami/istri dan anak-anak. Lokasi baru sebagai tempat makan malam bisa menyegarkan pikiran Anda dan keluarga. Atur waktu dan diskusikan bersama tempat yang cocok untuk Anda dan keluarga makan malam.

Olah tubuh
Salah satu alasan banyak orang menyukai yoga dan aerobik adalah saat melakukan aktivitas itu, kebanyakan dari mereka merasa seolah-olah sedang bermain. Gerakan fisik seperti berjalan atau duduk mungkin sudah biasa. Tapi, melakukan aktivitas seperti gerakan aerobik melompat-lompat sambil mendengarkan lagu favorit Anda bisa menciptakan rasa senang dan bahagia.

Permainan kata
Bermain tidak selalu harus ribut atau menggerakkan tubuh. Bermain tebak kata juga bisa menjadi pilihan menyenangkan lainnya. Permainan tenang seperti teka-teki silang atau sudoku termasuk sebuah permainan juga. Lakukan aktivitas itu di sela-sela waktu Anda saat dalam perjalanan atau tengah beristirahat santai.


sumber
#fd452a

No comments:

Post a Comment