Saturday, May 26, 2012

Gladiator: Strategi Kampanye Politikus Roma Kuno

Banyak cara yang dilakukan para politikus di tanah air untuk menjaring pemilih saat kampanye. Mulai dari membagi-bagi sembako, mendatangkan artis seksi hingga menggelar pengobatan gratis.

Para calon senator di Romawi kuno punya cara lain. Mereka menggelar aksi gladiator yang penuh darah.

Setiap musim pemilihan senator akan dimulai, para senator berlomba-lomba menggelar adu gladiator. Mereka berusaha memuaskan orang Roma yang haus darah dengan pertandingan berkualitas. Berkualitas di sini berarti tontonan penuh kekejaman dan penuh darah.

Gladiator adalah para petarung yang direkrut dari budak atau tawanan perang. Tak hanya bertarung satu lawan satu sampai tewas, mereka juga harus bertarung melawan harimau dan hewan buas lain.

Salah satu nama gladiator yang dicatat sejarah adalah Spartacus. Tidak ada yang tahu asal usulnya. Banyak orang menduga dulunya dia adalah seorang prajurit asal Yunani yang ditawan pasukan Rowa. Dijual sebagai budak kemudian masuk dalam kamp Gladiator.

Saat politis beken Roma, Marcus Licinius Crassus, mencalonkan diri, dia menggelar pertandingan gladiator. Spartacus dipaksa bertanding di arena gladiator untuk memuaskan pendukung Crasuss. Untuk melakukan pergelaran seperti ini biaya yang dibutuhkan sangat besar. Hanya politisi dengan kocek sangat tebal bisa melakukannya.

Tahun 73 sebelum masehi, Spartacus memimpin pelarian 70 orang gladiator. Mereka mencoba lari dari kejaran tentara Romawi dan bersembunyi di sekitar Gunung Vesuvius. Tentara Roma terus mengejar mereka, namun akhirnya dalam pertempuran pertama, Spartacus berhasil mengalahkan mereka. Begitu juga dengan pertempuran kedua, Spartacus dan pasukan budak memukul mundur dua legiun pasukan Roma yang terlatih. Spartacus pun menjadi legenda. Seorang budak yang berani menentang Roma. Pengikutnya terus bertambah hingga mencapai 70.000 orang.

Sayang nasib Spartacus dan pengikutnya berakhir tragis. Tahun 71 sebelum masehi, pasukan besar Roma di bawah pimpinan Marcus Licinius Crassus mengepung Spartacus di dekat Messina, Itali. Tak ada jalan keluar lagi. Spartacus dikalahkan, tapi jenazahnya tidak pernah ditemukan pasukan Roma. 6.000 pengikutnya disalib sebagai peringatan bagi budak dan gladiator yang ingin melarikan diri.

Gladiator pun terus menjadi bahan tontonan. Kadang para nyonya kaya membayar mahal untuk bisa tidur dengan para gladiator yang memenangkan pertandingan. Terus demikian. Hingga akhirnya kejayaan Roma hancur untuk selama-lamanya.

Sumber
#fd452a

No comments:

Post a Comment