Thursday, May 17, 2012

12 Tahun Hidup Tanpa Uang




Pernahkah Anda membayangkan untuk hidup di zaman sekarang tanpa uang? Mungkin Anda akan berpikir bahwa saya menanyakan pertanyaan konyol. Tentu saja tidak mungkin untuk hidup tanpa uang di zaman sekarang ini. Namun, saya akan menunjukkan pada Anda bukti nyata bahwa hidup tanpa uang bukanlah hal yang mustahil.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Daniel Suelo, seorang pria berusia 51 tahun telah memilih untuk hidup tanpa uang. Ia telah meninggalkan duniawi dan beralih untuk hidup di alam bebas. Ia tinggal di dalam sebuah gua yang berada di gurun Utah, Amerika.
Berawal pada tahun 2000, dimana terjadi krisis ekonomi secara besar – besaran di Amerika. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan $30, uang terakhir yang dimilikinya di sebuah kotak telepon umum. Setelah meninggalkan uangnya, ia pun segera berjalan ke padang gurun Moab, Utah. Sejak saat itu, ia bertekad untuk hidup mengembara tanpa uang sepeser pun. Temannya menganggap bahwa Suelo sudah gila.
Lahir dalam sebuah keluarga yang memiliki pandangan ultra-konservatif fundamentalis, membuat Suelo menjadi orang yang sangat agamawi ketika ia tumbuh dewasa. Namun, ketika masuk ke perguruan tinggi, pandangannya mulai terbuka. Suelo memeriksa kembali keyakinannya dan memutuskan bahwa uang adalah suatu hal yang menimbulkan kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Di dunia kapitalis modern ini, segala sesuatunya diukur dengan uang. Kaya dan miskin, dinilai dari uang yang dimiliki seseorang. Hal itu membuat Suelo muak. Menurutnya, dunia kapitalis ini membuat masyarakatnya bersifat konsumerisme. Sehingga di zaman modern ini, dunia kita dipenuhi oleh orang  orang yang tamak dan serakah. Suelo sendiri mengatakan bahwa sebenarnya gaya hidup masyarakat Amerika sudah menjadi gaya hidup yang konsumerisme. Dan jika semua orang hidup dengan gaya hidup seperti itu, maka dunia akan benar – benar runtuh, bahkan lebih cepat dari yang Anda duga. Pemikiran seperti itulah yang akhirnya membuat Suelo memutuskan untuk meninggalkan duniawi.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Ia akhirnya menemukan sebuah gua di tepi tebing di Taman Nasional Arches, Utah. Lalu Suelo pun membangun rumahnya di dalam gua yang berdimensi 200 m x 50 m itu dan telah tinggal di sana selama 12 tahun. Gaya hidupnya berubah total saat itu. Ia mencari makan dengan berburu, minum dari mata air, mandi di sungai dan membuat tempat tidurnya sendiri.
Namun, gaya hidupnya yang sederhana ini telah menjadi inspirasi bagi banyak masyarakat Amerika yang mengalami krisis ketika keadaan perekonomian Amerika mulai terperosok jatuh. Salah satunya adalah Mark Sundeen, sahabat Suelo. Pada awalnya, Sundeen menganggap Suelo sudah gila pada tahun 2000 ketika Suelo memutuskan untuk tinggal di gua. Namun, setelah Sundeen mengalami kejatuhan ekonomi pada tahun 2008, ia mulai mempertimbangkan kehidupan Suelo. Akhirnya, Sundeen pun bertekad untuk mengikuti jejak Suelo. Sundeen mengikuti Suelo, dan sejak itu, Sundeen mulai menulis sebuah buku mengenai kehidupan Suelo. Buku biografi gaya hidup Mark Suelo yang ditulis oleh Mark Sundeen berjudul "The Man Who Quit Money".
[imagetag]
dailymail.co.uk
Sundeen menuliskan bahwa Suelo pada awalnya hidup dengan cara berburu makanan sendiri dan bergantung pada kemurahan hati orang lain. Ia tidak usah membayar pajak, bahkan Suelo pun tidak menerima bantuan apapun dari pemerintah.
Di dalam buku yang ditulis Sundeen, Suelo berkata,"Filosofi saya adalah dengan menggunakan apa yang diberikan dengan kemurahan hati atau yang sudah dibuang oleh orang lain." Suelo menambahkan bahwa di dunia kapitalis Amerika sekarang, masyarakat Amerika dirancang sedemikian rupa agar tergantung pada uang. Mereka dipaksa untuk memiliki uang dan menjadi bagian dari dunia kapitalis. Hidup di luar dari itu adalah ilegal. Berbekal pemikiran dan filosofi tersebut, Suelo pun akhirnya meninggalkan tidak hanya uang saja, tapi juga SIM dan paspornya. Suelo pun mengubah namanya dari Shellabarger menjadi Suelo. Suelo adalah bahasa Spanyol yang berarti `soil` atau tanah.
Sejak saat itu Suelo telah tinggal di luar rumah, berkemah di padang gurun, tinggal di gua, dan menghabiskan malam di rumah orang asing. Dan akhirnya Suelo memutuskan untuk menetap di gua yang terletak di tepi tebing Taman Nasional Arches. Di dalam gua tersebut, Suelo membuat tempat tidur dari batu, mengais makanan, minum dari mata air dan mandi di sungai.
Setiap pendaki yang singgah disambut untuk tinggal bersamanya. Di sana, Suelo berbagi 'rumah', buku-bukunya dan bunga liar serta bibit kaktus yang dia makan dengan para pendaki yang singgah.
Suelo mempunyai tujuan hidup yang berbeda dari orang lain, yaitu dengan menerima sesedikit mungkin dan memberi dengan sebanyak mungkin. Suelo ingin meninggalkan jejak ekologis hanya sedikit, namun memberikan kontribusi yang besar bagi dunia ini. Demikian pengakuan Suelo kepada salah satu sahabatnya, Damian Nash, The Atlantic.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Suelo hanya mengambil barang barang yang sudah dibuang oleh orang lain, dan kemudian ia mendaur ulang barang tersebut. Seperti sepeda di atas yang ia daur ulang kembali.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Suelo telah tinggal selama lebih dari satu dekade di padang gurun yang jauh dari keramaian. Di sini, ia bisa menikmati kesendiriannya.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Gambar di atas adalah beberapa barang milik Suelo di dalam rumah gua nya yang minimalis.
[imagetag]
dailymail.co.uk
kembali ke alam, inilah kompor yang digunakan oleh Suelo untuk memasak hasil buruannya.
[imagetag]
dailymail.co.uk
Daniel Suelo bersama dengan temannya, Mark Sundeen tinggal bersama di Utah.


sumber
#fd452a

No comments:

Post a Comment